Nginx menurut kami memang rumit dalam pengaturannya tidak seperti Apache, ketika salah mengatur konfigurasi lah subdomain bisa berjalan tapi domain utama ketika diakses malah tidak pun sebaliknya.
Tidak hanya itu, kami juga harus menambahkan Woff2 pada Mime Type di Nginx agar berfungsi ketika mengatur gzip compression.
Terkait plugins cache, kami tetap menggunakan Litespeed Cache plugins meskipun cache nya tidak berfungsi di laman responsive ketika menggunakan web server Nginx ataupun Apache, namun berfungsi pada CDN, Object Cache dan Kompresi Gambar.
Alasan lainnya karena kami tidak ingin menginstall plugins yang banyak untuk object cache seperti Redis atau Memcached, tidak ingin juga menginstall plugins Kompres Gambar yang kebanyakan memiliki limit dan harus berbayar jika penggunaan kompres gambar melebihi limit serta tidak ingin menginstall plugins CDN untuk memuat gambar di subdomain.
Kenapa kami menggunakan Nginx meskipun trafik tidak seberapa dan tidak bejibun?
Setelah menggunakan Nginx ternyata penggunaan Memory dan CPU stabil dan tidak tinggi naik turun yang artinya stabil dan benar-benar hemat.
Selain daripada itu katanya Nginx ini mampu menghandle trafik atau kunjungan yang tinggi ke website yang diakses secara bersamaan, ya meskipun website kami nggak bejibun dalam hal trafik juga sih.
Meskipun menghemat CPU dan RAM, ternyata Nginx membuat Acces Log nya membengkak begitu drastis, oleh sebab itu, kami juga mematikan log acces agar konsumsi disk space tidak membengkak.
Tampilkan Semua
